sekolahmakassar.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerita Pendek Tentang Sekolah: Sekilas Kehidupan di Balik Papan Tulis

1. Aroma Kapur dan Kenangan di Kelas Tua

Debu kapur menari-nari di udara, aroma khas yang selalu membangkitkan kenangan. Kelas tua ini, dengan dindingnya yang retak dan bangku-bangku kayunya yang berderit, menyimpan segudang cerita. Di sini, aku pertama kali belajar membaca, menulis, dan menghitung. Di sini pula, aku merasakan pahit manisnya persahabatan dan cinta monyet.

Pak Budi, guru matematika yang selalu sabar menjelaskan rumus-rumus rumit, selalu menjadi sosok panutan. Dengan senyumnya yang teduh dan suaranya yang menenangkan, beliau mampu membuat matematika terasa menyenangkan. Aku ingat betul bagaimana beliau selalu menyemangati kami untuk tidak menyerah, meskipun soal-soal ujian terasa seperti labirin yang tak berujung.

Di bangku belakang, duduklah Rina, sahabatku sejak kelas satu. Dia selalu menjadi tempatku berkeluh kesah, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Kami sering bertukar catatan, mengerjakan tugas bersama, dan bermimpi tentang masa depan. Rina selalu menjadi penyemangatku, terutama saat aku merasa putus asa.

Namun, kelas tua ini juga menyimpan kenangan pahit. Aku ingat saat aku gagal dalam ujian matematika dan merasa sangat malu. Aku merasa telah mengecewakan Pak Budi dan diriku sendiri. Aku bersembunyi di perpustakaan, berusaha menahan air mata. Rina menemukanku dan memelukku erat. Dia berkata bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar dan bahwa aku harus bangkit kembali.

Kelas tua ini bukan hanya sekadar ruang belajar. Ia adalah saksi bisu perjalanan hidupku, tempat aku tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Aroma kapur dan kenangan di kelas tua ini akan selalu terukir dalam hatiku.

2. Kantin Sekolah: Pusaran Gosip dan Persahabatan

Kantin sekolah adalah jantung sekolah, tempat di mana semua orang berkumpul. Aroma makanan yang menggugah selera, suara tawa dan obrolan yang riuh, serta hiruk pikuk siswa yang berlalu lalang menciptakan suasana yang khas. Di sini, gosip tersebar dengan cepat, persahabatan terjalin, dan cinta bersemi.

Mbak Sumi, pemilik kantin, adalah sosok yang ramah dan selalu tersenyum. Dia hafal semua nama siswa dan pesanan favorit mereka. Nasi goreng buatannya adalah legenda di sekolah. Setiap istirahat, antrean di depan warungnya selalu mengular.

Di meja pojok kantin, aku dan teman-temanku sering berkumpul. Kami membicarakan berbagai hal, mulai dari pelajaran, film terbaru, hingga gosip tentang siswa yang sedang jatuh cinta. Kami tertawa bersama, saling mengejek, dan saling mendukung.

Kantin sekolah juga menjadi tempatku bertemu dengan Bayu, siswa kelas tiga yang menjadi idolaku. Dia adalah kapten tim basket sekolah, tampan, dan pintar. Aku selalu berusaha mencuri pandang ke arahnya setiap kali dia lewat di depan mejaku.

Namun, kantin sekolah juga menjadi saksi bisu perselisihan. Aku ingat saat aku bertengkar dengan Rina karena masalah sepele. Kami saling diam dan menghindari satu sama lain selama beberapa hari. Aku merasa sangat sedih dan bersalah. Akhirnya, kami berbaikan di kantin sekolah. Kami saling meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kantin sekolah bukan hanya sekadar tempat makan. Ia adalah pusaran gosip dan persahabatan, tempat aku merasakan berbagai macam emosi. Aroma makanan dan kenangan di kantin sekolah ini akan selalu menjadi bagian dari masa sekolahku.

3. Bidang Upacara : Garis Disiplin dan Semangat Kebangsaan

Lapangan upacara adalah tempat di mana kami berbaris rapi setiap hari Senin. Panas terik matahari dan suara pengeras suara yang memekakkan telinga menjadi bagian dari rutinitas. Namun, di balik semua itu, ada semangat disiplin dan kebangsaan yang membara.

Pak Anton, guru olahraga yang bertugas sebagai pembina upacara, selalu memberikan amanat yang membangkitkan semangat. Beliau selalu mengingatkan kami tentang pentingnya belajar, bekerja keras, dan mencintai tanah air.

Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, aku selalu merasa bangga menjadi bagian dari bangsa ini. Aku membayangkan para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Aku berjanji pada diri sendiri untuk berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.

Lapangan upacara juga menjadi tempat di mana kami mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Aku bergabung dengan tim paskibra dan berlatih dengan keras setiap sore. Kami belajar baris-berbaris dengan benar, mengibarkan bendera dengan gagah, dan menjaga kekompakan tim.

Namun, lapangan upacara juga menjadi tempat di mana kami dihukum karena melanggar peraturan sekolah. Aku pernah dihukum karena terlambat datang upacara. Aku harus berdiri di bawah terik matahari selama satu jam. Aku merasa sangat malu dan menyesal.

Lapangan upacara bukan hanya sekadar tempat berbaris. Ia adalah tempat menumbuhkan disiplin dan semangat kebangsaan, tempat aku belajar bertanggung jawab dan menghargai nilai-nilai luhur bangsa. Panas terik matahari dan kenangan di lapangan upacara ini akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

4. Perpustakaan Sekolah: Jendela Dunia dan Tempat Pelarian

Perpustakaan sekolah adalah surga bagi para pecinta buku. Aroma buku yang khas, suasana yang tenang, dan rak-rak buku yang menjulang tinggi menciptakan tempat yang nyaman untuk membaca dan belajar. Di sini, aku bisa menjelajahi dunia tanpa harus keluar dari sekolah.

Ibu Ratih, pustakawan yang ramah, selalu membantu kami mencari buku yang kami butuhkan. Dia hafal semua koleksi buku di perpustakaan dan selalu memberikan rekomendasi yang menarik.

Aku sering menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Aku membaca berbagai macam buku, mulai dari novel, komik, hingga buku pelajaran. Aku merasa senang bisa menambah pengetahuan dan wawasan melalui buku.

Perpustakaan sekolah juga menjadi tempatku melarikan diri dari masalah. Saat aku merasa sedih atau stres, aku selalu pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Buku-buku tersebut membantuku melupakan masalah sejenak dan memberikan inspirasi untuk menghadapinya.

Namun, perpustakaan sekolah juga menjadi tempat di mana aku bertemu dengan cinta pertamaku. Aku bertemu dengan Andre di perpustakaan saat kami sedang mencari buku yang sama. Kami sering berdiskusi tentang buku dan akhirnya saling jatuh cinta.

Perpustakaan sekolah bukan hanya sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah jendela dunia dan tempat pelarian, tempat aku menemukan pengetahuan, inspirasi, dan cinta. Aroma buku dan kenangan di perpustakaan sekolah ini akan selalu menjadi bagian dari masa sekolahku.

5. Ruang Guru : Tempat Mencari Ilmu dan Nasehat

Ruang guru adalah tempat di mana para guru berkumpul untuk berdiskusi, mempersiapkan pelajaran, dan memeriksa tugas. Ruang ini terasa sakral dan penuh dengan aura pendidikan. Di sini, aku bisa mencari ilmu dan nasihat dari para guru.

Pak Hasan, guru bahasa Indonesia yang selalu memberikan motivasi, selalu menjadi tempatku bertanya tentang kesulitan dalam pelajaran. Beliau selalu sabar menjelaskan materi yang sulit dan memberikan contoh-contoh yang mudah dipahami.

Ibu Dewi, guru BK yang bijaksana, selalu memberikan nasihat tentang masalah pribadi. Beliau selalu mendengarkan keluh kesahku dengan penuh perhatian dan memberikan solusi yang tepat.

Aku sering datang ke ruang guru untuk meminta bantuan mengerjakan tugas. Para guru selalu dengan senang hati membantuku dan memberikan masukan yang berharga.

Namun, ruang guru juga menjadi tempat di mana aku dimarahi karena melakukan kesalahan. Aku pernah dimarahi karena tidak mengerjakan tugas dan membuat keributan di kelas. Aku merasa sangat malu dan menyesal.

Ruang guru bukan hanya sekadar tempat para guru bekerja. Ia adalah tempat mencari ilmu dan nasihat, tempat aku belajar dari kesalahan, dan tempat aku tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Aroma kopi dan kenangan di ruang guru ini akan selalu menjadi bagian dari masa sekolahku.